Skip to main content

Posts

Showing posts with the label #forreviewer

Purifying Emotions 2: Alasan kenapa "membaca" layak menjadi emotions purifyer yang baik

Postingan kali ini terkesan mirip-mirip dengan postingan di hipwee gitu ya? hihi Setelah postingan sebelumnya membahas tentang "Menulis" sebagai salah satu emotions purifyer. Maka kali ini tidak beda jauh caranya, yakni... Membaca Mungkin, tidak semua orang suka membaca. Sebagian menganggap bahwa membaca itu sebuah aktivitas yang membosankan. Hanya duduk diam, memegang buku, di ruang yang hening. "Ah, sepi sekali rasanya. Tidak berwarna. Tidak bersensasi". Sedangkan sebagian sisanya beranggapan, "Oh tidak, membaca itu menyenangkan sekali. Kita bisa berpetualang kemanapun yang kita mau, mendalami apapun yang kita inginkan, yang tidak diajarkan di sekolah, di kampus, di tempat lainnya. Dengan membaca, kita bisa lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih-lebih lainnya". Pada akhirnya, baik tidaknya suatu anggapan, kembali bergantung pada masing-masing diri kita. Toh, jika kita berkutat dengan perihal suka atau tidak suka, setiap orang memiliki prefer...

Purifying emotions 1 : Ketika semua terasa menyesakkan, menulislah!

Postingan ini sesungguhnya dilatarbelakangi dengan motif antara katarsis dan sharing. Banyak cara mungkin, yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk katarsis, atau istilah mudahnya, mendinginkan emosi, penat, dan lain sebagainya. Saya sering sekali survei secara random dengan teman-teman yang saya temui, terutama sesama rekan di kampus psikologi, tentang apa saja yang mereka lakukan ketika sedang penat, terasa semuanya stuck , marah, emosi tak terkendali, atau semisalnya. Kali ini mungkin, sedikit yang akan saya bahas adalah dari cara yang saya suka dan mungkin beberapa orang yang juga mirip-mirip dengan saya. Yaitu, yak... menulis.  Beberapa alasan sederhananya adalah, (atau yang setidaknya saya rasakan dan lakukan)... Sometimes, only paper will listen to you credit images : https://id.pinterest.com/pin/232076187019420561/ Kita bisa menuliskan apa saja yang kita inginkan, bebas, sesuka kita. Tulis saja semuanya. Semua kekesalan, kepenatan, mengapa ki...

Dalam memilih, seorang muslimah setidaknya harus melibatkan beberapa pihak dan hal ini dalam memutuskan

“Segala sesuatu yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk bersatu. Pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang dilakukan, dia tidak akan pernah bersatu” ~Tere Liye~ images credit : https://id.pinterest.com/pin/393572454914055068/ Minggu, 23 Oktober 2016 kemarin, saya belajar, diingatkan, sekaligus menyadari suatu hal. Ya, sesuatu yang kemudian saya sebut makna. Ini dimulai dari sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta SPN, ”Ustadz, bagaimana jika ada yang datang mengkhitbah, namun hati si akhwat tidak ada kecenderungan kepadanya, sedangkan laki-laki yang ia cenderung kepadanya bukanlah orang yang melamar?”. Kemudian ustadz pun menjawab ”Aduh, coba itu dipikir lagi, kalau laki-laki yang datang itu sudah masuk semua kriterianya dengan laki-laki shalih, kenapa ditolak? Kalau ada yang mendatangi antunna dengan niat untuk nembung , jangan buru-buru untuk memutuskan! Beri waktu untuk ant...

Pepatah Lama : "Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai"

Pepatah Lama :  "Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai" Iya, sebab siklus hidup itu berputar. Apa yang diperbuat, ia jualah yang kelak didapat. Namun, seringkali kita terlupa.. Bahwa akan selalu ada harga yang harus dibayar dari setiap sesuatu. Ketika saat ini kita melakukan hal-hal baik, Maka kelak, kebaikan pula lah yang didapat. Pun begitu bila saat ini kita melakukan hal-hal yang buruk, Maka ketidakbaikan pula lah yang jua didapat di masa mendatang. Maka, bila sesuatu yang baik terjadi pada kita hari ini,  Boleh jadi itu tersebab perbuatan baik kita di hari kemarin. Sedang bila hari ini kita tertimpa kemalangan, Maka boleh jadi, itu tersebab sesuatu yang tak baik yang kita lakukan di hari kemarin. Iya, sebab di dunia ini, hubungan sebab akibat jelas berlaku. Dan kesemuanya itu, merupakan konsekuensi logis dari segala sesuatu. ~Arifah El-Kizai Image credit by : http://serbalanda.wordpress.com

The Power of Greeting : Sebab ukhuwah akan menjaga

Assalamu'alaykum ^^ Hi! Long time no see, rasanya sudah berbulan-bulan nggak nulis... hehe Nah..tadinya bingung mau nulis apa, lalu kemudian ketika saya menuliskan kata pertama postingan ini, langsung tetiba fix menentukan apa yang mau saya tulis disini. Dan yak, postingan kali ini Insya Allah akan membahas tentang...... Ya... The Power of "Greeting" Bermula dari ide sederhana. Ketika saya jalan-jalan pagi dengan seorang teman. Waktu itu, masih pagi sekali, kebetulan hari itu, kami tidak ada jadwal kuliah, mengingat status kami yang saat ini adalah mahasiswa tingkat akhir, bukan lagi waktunya untuk duduk manis di atas meja, mendengarkan ceramah kuliah, mencatat apa yang diterangkan dosen. Tidak, status mahasiswa tingkat akhir program studi yang saya tempuh memiliki tuntutan untuk membuka mata, hati, dan juga kepekaan batin ketika setiap kali berjalan di manapun saya berada. Belajar dari kehidupan di jalan, lantas kemudian dituangkan dalam sebuah kary...

Merelakan, mengikhlaskan = Belajar

Duhai, merelakan dan mengikhlaskan itu sebelas dua belas. Keduanya sesama bagian dari proses belajar. Belajar memahami bahwa apabila sesuatu harus dilepaskan, maka sama artinya dengan siap untuk menerima yang lebih baik. Mengapa merelakan dan mengikhlaskan itu perlu belajar? Sebab, belajar keduanya tidak bedanya seperti belajar pada umumnya. Yang tadinya tidak bisa, perlahan bisa, kemudian bisa seutuhnya. Juga di dalamnya, ada ujian-ujian yang apabila belum berhasil, maka perlu belajar lagi. Kalau sudah berhasil, maka kemudian mudah untuk melangkah pada tahap selanjutnya. Kesemuanya itu rangkaian proses untuk menjadi baik. :) (C) Arifatul Bahirah, 07082016 #Repost images powered by : google images

Sibuk? Kacau? Periksa interaksi kita dengan Al-Qur'an

 image powered by: quotesgram.com Kalau suatu hari kamu nggak sempat muroja'ah karena sibuk ujian. Kalau suatu hari kamu nggak sempat menambah hafalan karena sibuk organisasi, atau kesibukan lainnya. Percayalah... Bukan karena kamu sibuk, atau kamu nggak sempat membaca Al-Qur'an, tapi... Gara-gara nggak baca Qur'an, pikiranmu sibuk, Gara-gara nggak baca Qur'an, perasaanmu sibuk, Gara-gara nggak baca Qur'an, struktur atomistik kamu kacau. Justeru setelah baca Qur'an, kamu jadi nggak sibuk. Ketika saya sibuk dan tak sempat membaca Qur'an, ini berbahaya.  Keputusan yang saya ambil, langkah-langkah yang saya jalani, sesuatu yang saya lihat, semuanya tidak terbimbing dengan petunjuk-Nya ~Ust. Bachtiar Nasir Kutipan ini didapat dari akun media sosial seorang adik. Kutipan ini, ibarat sebuah pukulan telak rasanya. Iya! Betul! Sebab memang kalau kita tidak menyibukkan diri dengan aktivitas ukhrowi, maka kita akan disibukkan dengan ...

Every place has their own happines. So move forward!

Kamu tahu? Setiap tempat, mereka memiliki porsinya masing-masing untuk memberi kita kebahagiaan. Maka, jika sekiranya kebahagiaanmu di suatu tempat sudah habis, boleh jadi jatah berbahagiamu disitu sudah habis. Kalau sudah begitu, jangan diam saja. Untuk apa diam di tempat, berjalanlah! bergeraklah! Sebab kemana langkahmu berayun, disitulah tersimpan alasan untuk berbahagia. Meski begitu, akan lain ceritanya jika di setiap tempat kamu selalu menjadi orang yang paling tidak bahagia. Berarti, besar kemungkinan kebahagiaan yang ingin dibagikan oleh tempat itu adalah suatu pelajaran. Iya, pelajaran. Sebab boleh jadi, selama ini kamu kurang pandai dalam melihat kebahagiaan, atau mungkin juga kamu kurang cakap dalam mengambil peluang untuk berbahagia. Maka kemudian, tempat itu akan menjadi tempat yang tepat untuk memulai belajar berbahagia. Maka kalau sudah begini, jangan lekas pergi dari tempat itu, bermukimlah sejenak, peroleh pelajaran sebanyak mungkin, agar kemudi...

Mutlak, tidak berakhir dalam bentuk yang terbaik

Kalau sekiranya segala sesuatu itu gampang, Bukankah akan semakin banyak orang yang menggampangkan? Pun, kalau sekiranya segala sesuatu itu sulit, Bukankah akan semakin banyak pula orang yang kesulitan, juga mempersulit orang lain? Memang, segala sesuatu yang terlalu mutlak gampang, ataupun mutlak sulit, memang tidak berakhir dalam bentuk yang terbaik. Maka itu sebabnya, Allah ciptakan keduanya seimbang. Tidak mutlak gampang, pun sulit. Agar dengan begitu, makhluknya selalu berakhir dalam bentuk yang terbaik. Ah, kasih sayang Allah itu sungguh manis, bukan? :) (c) Arifah El-Kizai (19)_2015, 8th September

Solving your stress with...ORANGE #Part 1

Hello there, readers! Well, cause I'm part of students in psychology field, maybe I should start for sharing more about psychological topic, no more any "galau" post. LOL So... here's the one! If we are talking about psychological problems, the first word that will be the main topic is... Yep... STRESS Maybe, I shouldn't tell you anymore what is the meaning of the stress itself. Or if you want, you can ask me to tell you about it or perhaps I will tell you about it in the different post later. Okay, so many things happen and turn out to be awful if we are in the middle of "Stress Stage" So now, let me sharing to you all about an "orange" Ah... yeah, for make it easier *coz It contains many scientific phrase, let me just explain in Indonesian. hoho Beberapa dari sumber yang menjadi rujukan bacaan, Buah jeruk dikenal sebagai buah yang memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Studi menyatakan bahwa it. C da...

Kata bijak tentang hari ini, dan esok

Tenggelamnya matahari di ufuk barat bukanlah pertanda hidup kita berakhir hari ini, setuju? Yah, setidaknya masih ada hari esok untuk kita memperbaiki diri dan hari untuk menjadi lebih baik dan sebaik mungkin yang kita bisa  ~Arifah El-Kizai _ 18 Oktober 2014

Maka janganlah engkau marah lagi kesal :)

Jangan marah, karena memang sudah ditetapkan seperti itu. Jangan kesal, karena memang jalannya harus seperti itu. Berbahagialah, karena yang sudah ditetapkan akan berbuah manis. Bergembiralah, karena jalan yang harus dilewati adalah jalan yang benar. Thank you for reading, repost 29122013 -Arifah El-Kizai ^^

catatan kecil muhasabah diri

Allah.. Allah itu.....Raja dari segala raja, begitu bukan? Allah itu.... yang merajai segala kerajaan di muka bumi, benar bukan? Lalu kita? Kita ini.... hambanya Allah, benar begitu? Berarti kita ini..... rakyatnya Allah, setuju? Lantas..... Layaknya seorang rakyat yang taat pada rajanya, maka ketika sang raja memanggilnya, ia akan merasa sangat bahagia memenuhi panggilan sang raja. Sedang, seorang rakyat yang seringkali melanggar aturan sang raja, ia akan merasa sangat takut untuk menemui sang raja, Padahal.... seharusnya ia tahu... "Bisa bertatap muka dengan sang raja adalah sebuah kenikmatan dan kehormatan tiada tara" Jadi, sosok rakyat seperti apakah kita di mata Allah? Rakyat yang taatkah? atau mungkin seorang buronan? ~23rd of March 2013_@SMAN CMBBS~