Skip to main content

Posts

Showing posts with the label quotesoftheday

Jangan sampai...

Jangan sampai... Yang paling menghargai kita, justru tak kita hargai. Yang paling mengerti kita, justru kita menggampangkan pengertiannya. Yang paling menyayangi kita, justru kita sibuk menyayangi yang lain. Iya, jangan sampai.

Yang menang, yang dewasa

image credit by : https://id.pinterest.com/explore/growing-up-quotes/ Terkadang, Hidup itu bukan masalah siapa yang paling bisa membalas, dialah yang menang. Melainkan siapa yang paling mampu mengendalikan amarahnya, ialah yang sejatinya menang. Tapi, bukan pula maksudnya harus terima jika direndahkan. Mengertilah, ini hanya soal kedewasaan. Siapa yang lebih dewasa, ialah yang paling mampu menuai pelajaran. Iya, pelajaran.... Bahwa hidup terlalu membosankan jika hanya diisi dengan balas dendam ~03112016 #Repost postingan lama di medsos lain

Purifying Emotions 2: Alasan kenapa "membaca" layak menjadi emotions purifyer yang baik

Postingan kali ini terkesan mirip-mirip dengan postingan di hipwee gitu ya? hihi Setelah postingan sebelumnya membahas tentang "Menulis" sebagai salah satu emotions purifyer. Maka kali ini tidak beda jauh caranya, yakni... Membaca Mungkin, tidak semua orang suka membaca. Sebagian menganggap bahwa membaca itu sebuah aktivitas yang membosankan. Hanya duduk diam, memegang buku, di ruang yang hening. "Ah, sepi sekali rasanya. Tidak berwarna. Tidak bersensasi". Sedangkan sebagian sisanya beranggapan, "Oh tidak, membaca itu menyenangkan sekali. Kita bisa berpetualang kemanapun yang kita mau, mendalami apapun yang kita inginkan, yang tidak diajarkan di sekolah, di kampus, di tempat lainnya. Dengan membaca, kita bisa lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih-lebih lainnya". Pada akhirnya, baik tidaknya suatu anggapan, kembali bergantung pada masing-masing diri kita. Toh, jika kita berkutat dengan perihal suka atau tidak suka, setiap orang memiliki prefer...

Dalam memilih, seorang muslimah setidaknya harus melibatkan beberapa pihak dan hal ini dalam memutuskan

“Segala sesuatu yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk bersatu. Pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang dilakukan, dia tidak akan pernah bersatu” ~Tere Liye~ images credit : https://id.pinterest.com/pin/393572454914055068/ Minggu, 23 Oktober 2016 kemarin, saya belajar, diingatkan, sekaligus menyadari suatu hal. Ya, sesuatu yang kemudian saya sebut makna. Ini dimulai dari sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta SPN, ”Ustadz, bagaimana jika ada yang datang mengkhitbah, namun hati si akhwat tidak ada kecenderungan kepadanya, sedangkan laki-laki yang ia cenderung kepadanya bukanlah orang yang melamar?”. Kemudian ustadz pun menjawab ”Aduh, coba itu dipikir lagi, kalau laki-laki yang datang itu sudah masuk semua kriterianya dengan laki-laki shalih, kenapa ditolak? Kalau ada yang mendatangi antunna dengan niat untuk nembung , jangan buru-buru untuk memutuskan! Beri waktu untuk ant...

Pepatah Lama : "Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai"

Pepatah Lama :  "Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai" Iya, sebab siklus hidup itu berputar. Apa yang diperbuat, ia jualah yang kelak didapat. Namun, seringkali kita terlupa.. Bahwa akan selalu ada harga yang harus dibayar dari setiap sesuatu. Ketika saat ini kita melakukan hal-hal baik, Maka kelak, kebaikan pula lah yang didapat. Pun begitu bila saat ini kita melakukan hal-hal yang buruk, Maka ketidakbaikan pula lah yang jua didapat di masa mendatang. Maka, bila sesuatu yang baik terjadi pada kita hari ini,  Boleh jadi itu tersebab perbuatan baik kita di hari kemarin. Sedang bila hari ini kita tertimpa kemalangan, Maka boleh jadi, itu tersebab sesuatu yang tak baik yang kita lakukan di hari kemarin. Iya, sebab di dunia ini, hubungan sebab akibat jelas berlaku. Dan kesemuanya itu, merupakan konsekuensi logis dari segala sesuatu. ~Arifah El-Kizai Image credit by : http://serbalanda.wordpress.com

Whether you choose to move on or even locked in the past: Life Goes On!

Yes, It hit me really hard over and over again. Life goes on! Whether you choose to move on and do everything you could, Or locked in the past. Yes, these all lies between two choices, afterall Every single time, every single of free time, You have to think anything about moving on, doing anything on your own, or else the only thing you remember is the past Probably, this thing is the best way for accepting the past, forget the memories from the past, protect and recreate your future! Or even, it's not probably. It's absolutely the best way to do #2016, September 22nd . . . . . image credit by : geniusquotes.net supported by : google images

The Power of Greeting : Sebab ukhuwah akan menjaga

Assalamu'alaykum ^^ Hi! Long time no see, rasanya sudah berbulan-bulan nggak nulis... hehe Nah..tadinya bingung mau nulis apa, lalu kemudian ketika saya menuliskan kata pertama postingan ini, langsung tetiba fix menentukan apa yang mau saya tulis disini. Dan yak, postingan kali ini Insya Allah akan membahas tentang...... Ya... The Power of "Greeting" Bermula dari ide sederhana. Ketika saya jalan-jalan pagi dengan seorang teman. Waktu itu, masih pagi sekali, kebetulan hari itu, kami tidak ada jadwal kuliah, mengingat status kami yang saat ini adalah mahasiswa tingkat akhir, bukan lagi waktunya untuk duduk manis di atas meja, mendengarkan ceramah kuliah, mencatat apa yang diterangkan dosen. Tidak, status mahasiswa tingkat akhir program studi yang saya tempuh memiliki tuntutan untuk membuka mata, hati, dan juga kepekaan batin ketika setiap kali berjalan di manapun saya berada. Belajar dari kehidupan di jalan, lantas kemudian dituangkan dalam sebuah kary...

Merelakan, mengikhlaskan = Belajar

Duhai, merelakan dan mengikhlaskan itu sebelas dua belas. Keduanya sesama bagian dari proses belajar. Belajar memahami bahwa apabila sesuatu harus dilepaskan, maka sama artinya dengan siap untuk menerima yang lebih baik. Mengapa merelakan dan mengikhlaskan itu perlu belajar? Sebab, belajar keduanya tidak bedanya seperti belajar pada umumnya. Yang tadinya tidak bisa, perlahan bisa, kemudian bisa seutuhnya. Juga di dalamnya, ada ujian-ujian yang apabila belum berhasil, maka perlu belajar lagi. Kalau sudah berhasil, maka kemudian mudah untuk melangkah pada tahap selanjutnya. Kesemuanya itu rangkaian proses untuk menjadi baik. :) (C) Arifatul Bahirah, 07082016 #Repost images powered by : google images

Sibuk? Kacau? Periksa interaksi kita dengan Al-Qur'an

 image powered by: quotesgram.com Kalau suatu hari kamu nggak sempat muroja'ah karena sibuk ujian. Kalau suatu hari kamu nggak sempat menambah hafalan karena sibuk organisasi, atau kesibukan lainnya. Percayalah... Bukan karena kamu sibuk, atau kamu nggak sempat membaca Al-Qur'an, tapi... Gara-gara nggak baca Qur'an, pikiranmu sibuk, Gara-gara nggak baca Qur'an, perasaanmu sibuk, Gara-gara nggak baca Qur'an, struktur atomistik kamu kacau. Justeru setelah baca Qur'an, kamu jadi nggak sibuk. Ketika saya sibuk dan tak sempat membaca Qur'an, ini berbahaya.  Keputusan yang saya ambil, langkah-langkah yang saya jalani, sesuatu yang saya lihat, semuanya tidak terbimbing dengan petunjuk-Nya ~Ust. Bachtiar Nasir Kutipan ini didapat dari akun media sosial seorang adik. Kutipan ini, ibarat sebuah pukulan telak rasanya. Iya! Betul! Sebab memang kalau kita tidak menyibukkan diri dengan aktivitas ukhrowi, maka kita akan disibukkan dengan ...

Every place has their own happines. So move forward!

Kamu tahu? Setiap tempat, mereka memiliki porsinya masing-masing untuk memberi kita kebahagiaan. Maka, jika sekiranya kebahagiaanmu di suatu tempat sudah habis, boleh jadi jatah berbahagiamu disitu sudah habis. Kalau sudah begitu, jangan diam saja. Untuk apa diam di tempat, berjalanlah! bergeraklah! Sebab kemana langkahmu berayun, disitulah tersimpan alasan untuk berbahagia. Meski begitu, akan lain ceritanya jika di setiap tempat kamu selalu menjadi orang yang paling tidak bahagia. Berarti, besar kemungkinan kebahagiaan yang ingin dibagikan oleh tempat itu adalah suatu pelajaran. Iya, pelajaran. Sebab boleh jadi, selama ini kamu kurang pandai dalam melihat kebahagiaan, atau mungkin juga kamu kurang cakap dalam mengambil peluang untuk berbahagia. Maka kemudian, tempat itu akan menjadi tempat yang tepat untuk memulai belajar berbahagia. Maka kalau sudah begini, jangan lekas pergi dari tempat itu, bermukimlah sejenak, peroleh pelajaran sebanyak mungkin, agar kemudi...

Tentang Move On #2

Sebuah alasan mudah bukan? Tapi, siapa sangka, melaksanakannya tak semudah menuliskannya. Lantas, apakah harus tetap dicoba? Tentu saja, Sebab mencobanya, sama artinya dengan memberikan kesempatan diri untuk berbahagia dengan yang lebih baik. Namun, tak begitu saja melupakan. Sebab semakin mencoba tuk melupa, Boleh jadi justeru semakin teringat. Maka mari kita sederhanakan saja. Ya, disederhanakan. Waktunya mengganti melupakan dengan mengikhlaskan. Mengapa mengikhlaskan? Sebab mengikhlaskan, sama artinya dengan memberi jeda pada hati. Jeda tuk beristirahat, Jeda untuk kembali pada posisi semula. Agar dapat bersegera bersiap meniti lembar yang baru. ~Solo, 17 Desember 2015~ Gores Pena: Arifah El-Kizai

Tentang move on #1

Move on itu... penting. Iya, penting sekali. Sebab, tidak ada satupun di dunia ini yang dapat kita genggam erat selamanya, Maka, juga tidak boleh ada yang membuat kita terus menerus bermurung diri. Move on itu.... penting. Tentu saja. Sebab, hati kita hanya satu. Namun ruang di dalamnya tak hanya satu. Jadi terlalu sayang jika hanya diisi satu orang saja. Karena disadari atau tidak, satu orang itu nanti dapat menempati ruang lebih banyak, Padahal orangtua kita, teman-teman, dan orang-orang yang membutuhkan kita, Mereka pun membutuhkan ruang Jadi, berlaku adillah! Lantas, jika harus move on, hati harus bagaimana ? Tunggu saja... Karena sejatinya, hati akan sendirinya move on ketika ia akhirnya mengerti bahwa sudah tidak ada lagi titik balik Tunggu saja... biar waktu yang menjawab Mengapa waktu? Iya, sebab dari waktu kita bisa belajar, Mana yang harus diperjuangkan, Mana yang harus dipertahankan, dan Mana yang haru diikhlaskan. ...

QS Al-Muzzammil : 20

"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mecari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang...

Kata bijak tentang hari ini, dan esok

Tenggelamnya matahari di ufuk barat bukanlah pertanda hidup kita berakhir hari ini, setuju? Yah, setidaknya masih ada hari esok untuk kita memperbaiki diri dan hari untuk menjadi lebih baik dan sebaik mungkin yang kita bisa  ~Arifah El-Kizai _ 18 Oktober 2014

Masihkah pantas kau mengeluh, duhai muslimah?

Long time no post...  So, for this time, let me post something good, something more ^^ This is my draft that possibly be published at  http://kerohanianislamhimapsiuns.blogspot.com/ Let's see how good it is... PS: Comments are required, whether at this site or at  http://kerohanianislamhimapsiuns.blogspot.com/  one ^^ Masihkah kau mengeluh tatkala dirimu seorang muslimah? Apa yang kau keluhkan? Karena begitu banyak ketentuan yang mengaturmu? Seakan kebebasanmu direnggut? Meski kau tahu semua ketentuan itu untuk menjagamu, namun kau tetap saja mengeluh? Baik, mari kita mulai dengan sebuah nasihat mendasar “Karena kau….Akhwat! Dan kau, kian istimewa hingga segala sesuatu tentangmu memiliki banyak ketentuan yang menjagamu.“ Tak sedikit mungkin pertanyaan kritik berkeluh yang dilontarkan para akhwat selama hidupnya. Paling tidak, sesekali. Kita mempertanyakan tentang: 1.       Mengapa aurat wanita lebih banyak ...

If we....

"Memalsukan senyum" jauh lebih rumit dibanding "memalsukan kesedihan". Ketika seseorang tersenyum dan bilang baik2 saja, maka hanya dia dan Tuhan-lah yang tahu apakah memang baik2 saja atau tidak. Hanya saja, gunakan jawaban "aku baik2 saja" sebagai kalimat kokoh, diyakini, agar sugestinya muncul, dan besok lusa kita memang baik2 saja. Jangan gunakan karena tidak ada jawaban lain yang melintas di kepala selain itu. ~Darwis Tere Liye