Skip to main content

Posts

Change when it needed, change when we have to

image supported by google images Everybody changes, When we need to, When we have to, No matter what, No matter how. Once in a while, a random situation comes in a different way. It doesn't matter what do we do, It doesn't concern whether we want it or not When it already comes, That's all what we're going to face. But, if we think it twice, Later on, let's just take minutes for one or two, Probably, that's what actually we need Probably, that's what we actually do in order to level up ourselves. And perhaps, if it's not like that, We're not going to learn things through. We're not going to know what we actually need to be done. That's why, let's try to be more grateful! So that we will be the better human being. #Sragen, 2017, January 20th  #Part of KKN Life

Tentang Waktu

image source : en.wikipedia.org Berkali-kali, aku dibelajarkan tentang waktu. Tentang bagaimana ia ada, Bagaimana ia memuat butir-butir sketsa memori, Bagaimana ia berlalu, Pun bagaimana seharusnya aku bersua dengannya. Berulang kali, kehidupan mengajariku tentang waktu. Tentang bagaimana selama ini aku menaruh guna padanya, Bagaimana ia berlalu berkali-kali tanpa makna, Bagaimana kemudian aku akan menyesalinya. Pun bagaimana seharusnya aku tak acuh begitu saja. Duhai, kian hari kian tahun menapaki titian hidup, Kemana saja kiranya aku melangkah kaki? Hingga barulah saja terjejak sebuah peringatan. Bahwa hidup ini belum tentu sampai esok, lusa, pun keesokan lainnya. #Blangu, 19 Januari 2017 #KKNLife

Tenang saja

Setiap dari kita, memiliki waktunya masing-masing untuk kapan saatnya dipertemukan tiba. Setiap dari kita, memiliki ketetapannya masing-masing untuk dipertemukan dengan sesiapa. Memilih dan menentukan itu, tak sederhana. Seraya menunggu waktunya tiba, Kita masih bisa duduk-duduk bersahaja.  Memperhatikan, memilih, apakah layak untuk dipertahankan, Lantas menentukan mana yang harus diperjuangkan.

#Tentang Hati

Kalau, Yang diinginkan terjadi belum juga terjadi, Maka ayuk bersabar dulu, Karena boleh jadi, yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Kalau, Yang diinginkan datang belum juga datang, Maka mari bersiap diri, Karena bisa jadi, yang diinginkan datang ingin menjemput yang sudah bersiap. Pun kalau, Yang kemarin singgah dalam hati belum juga pergi. Maka mari belajar mengikhlaskan, Karena mungkin saja, yang kemarin singgah sebagai pengingat bahwa hati hanya boleh bermuara kepada-Nya.

#Tentang Hidup

Mudah saja,  Tidak usah sulit-sulit menetapkan standar. Cukup realistis pada apa yang harus dilengkapi, pun apa yang dapat kita lengkapi. Toh, pada akhirnya, jika kita tidak mendapatkan yang "ada apanya", maka yang kita dapat yang "apa adanya". Karena hidup ini memang tidak menciptakan kita tanpa kekurangan. Selalu ada saja yang butuh untuk dilengkapi, Pun selalu ada saja yang dapat kita lengkapi.

KKN Life : Day 6, sebuah catatan

Selamat malam. Asa yang terbendung itu, akhirnya tertunaikan sudah. Mengurai sukma, merajuk harmoni. Tiba waktunya untuk bergegas, bersua dalam kehangatan hadir, Bertajuk cita dan cinta dalam melodi nurani. Selamat hari Minggu! Hari libur, sepertinya memang tepat untuk dijadikan kesempatan me -recharge­ semangat ya? Iya, tak beda dengan saya dan kawan-kawan yang sedang KKN. Hanya saja, dengan cara yang sedikit berbeda. Recharge semangat kami hari ini terpenuhi dengan senyuman adik-adik yang belajar di posko kami. Mulai dari datang dan berdiri di depan pintu rumah Pak Bayan yang menjadi posko kami, lalu senyum malu-malu seraya mengucap “Mbak… Mau bimbel” Wah… senyumnya ituuu, minta dibawa pulang ke solo deh adeknya. Hihi. Kami sebetulnya cukup kaget, program bimbel kami sesungguhnya baru akan mulai minggu depannya. Sedangkan ini, hanya sehari setelah kami mensosialisasikan program bimbel ke SD –SD sekitar desa saja sudah banyak adik-adik yang berdatangan. Posko kami...

“Kau yang Hadir dalam Gugur”

Gores Pena : Arifatul Bahirah image by:  http://freedesignfile.com/87560-hands-and-red-heart-vector/ Engkau, tidak tahu bukan? Setiap kata yang terucap dari lisan itu Sempurna menyusup dalam hati Seraya berbisik h arap ,  kaulah imamnya Kau, tentulah tidak tahu bukan? Sekeranjang kata bunga dari lisan itu Elok sudah membungkus hati ini rapi Seraya menelisir dalam fikir, sepertinya memang kaulah imamnya. Tapi, tabir engkau hilang di tetiba waktu Meninggalkan bisik harap pun fikir tak bertuan Hingga gugur sudah, Bunga hati yang sempat terkira imamku. Pun tapi, kau tahu? Bunga itu, tergugur indah Tak berhias tangis, pun sesal Hanya sesingkat berkata Terima kasih, duhai hati pertamaku